Sharing Pelayanan: Kunjungan GKJ Joglo ke GKJ Tangerang
blog-img
02/03/2026

Sharing Pelayanan: Kunjungan GKJ Joglo ke GKJ Tangerang

Administrator | Berita

Tangerang--28 Februari 2026. Pada pagi yang cerah itu,  hari Sabtu tanggal 28 Februari 2026, GKJ Tangerang menerima kunjungan dari perwakilan GKJ Joglo dalam sebuah pertemuan yang secara khusus bertujuan untuk melakukan sharing pelayanan. Kunjungan ini merupakan hasil tindak lanjut dari pertemuan Pengembangan Ekonomi Jemaat (PEJ) tingkat Klasis di Depok beberapa waktu yang lalu, yang mempercakapkan tentang pengelolaan Barang Bekas (Barbek) dan Minyak Jelantah (Mijel).
Sebanyak empat orang perwakilan dari GKJ Joglo hadir untuk mendengarkan langsung pelaksanaan program tersebut di lapangan. Adapun perwakilan yang hadir adalah:

1. Dkn. Indriatno Ismoroadi (Majelis Ketua Diakonia)
2. Pnt. Aditya Ari R. Susetyawan (Majelis Sister Church)
3. Dkn. Dwi Upandhoko (Majelis Koordinator Wilayah)
4. Dkn. Andreas Gilar Samudro (Majelis Pendamping Komisi Pemuda dan Komisi Remaja)

Kehadiran rombongan ini disambut oleh perwakilan GKJ Tangerang yang terdiri dari Komisi PEJ, Tim Barbek, serta pendamping.

Dari Komisi PEJ GKJ Tangerang:
1. Abednego Agung Prasetiawan (Ketua)
2. Bambang Tri Hutomo (Bendahara)
3. Wiwik Sudarwati (Anggota)

Dari Tim Barbek GKJ Tangerang:
1. Sarwata (Koordinator)
2. Praptono (Anggota)
3. Lukas Budi Santoso (Anggota)

Pendamping kegiatan ini adalah Pendeta Ivan Gilang Kristian.

Pertemuan dibagi menjadi dua sesi. Pada sesi pertama, percakapan difokuskan pada pengelolaan barang bekas dan minyak jelantah, sementara pada sesi kedua dipercakapkan mengenai program PEJ yang dilakukan GKJ Tangerang.

Sesi pertama dipandu oleh Bapak Sarwata selaku Koordinator Barbek dengan menjelaskan riwayat dan langkah-langkah operasional yang dilakukan gereja dalam mengelola barang bekas. Gerakan pengelolaan ini dipicu oleh semangat partisipasi dalam pelunasan Sudirman 52, yang terbukti mampu mendorong jemaat untuk ikut serta memberikan dukungan melalui berbagai alternatif sumbangsih.
Diawali dari bapak sarwata dalam mempersiapkan masa pensiun sebagai guru PNS, beliau membeli mobil pick up untuk dipakai usaha dan sumber pendapatan. Sebagai bentuk nyata dari ucap syukur dan tanggung jawab terhadap pelunasan Sudirman 52, Pak Sarwata memberikan waktu, tenaga dan pikiran untuk mulai mengumpulkan barang-barang bekas yang dibawa jemaat ke gereja. Setiap hari Minggu mobil pick up Pak Sarwata di parkir di dekat pintu gerbang Sudirman 52, supaya jemaat bisa langsung memasukkan barang-barang bekas yang dibawa dari rumah ke dalam bak mobil tersebut. Selanjutnya barang-barang yang sudah terkumpul itu dibawa pulang untuk dipilah-pilah sesuai jenisnya. 
Dengan berjalannya waktu barang-barang bekas yang terkumpul semakin banyak sehingga Pak Sarwata dan ibu Lilik cukup kewalahan ketika memilah dan memilih barang-barang tersebut di rumah. Melihat hal tersebut Pak Praptono salah seorang koster GKJ Tangerang, memberikan saran supaya Pak Sarwata meminta izin kepada majelis untuk memakai area Sudirman 52 sebagai tempat mengumpulkan barang-barang bekas dari jemaat. Dan akhirnya, Pak Sarwata sebagai seorang pribadi dan sebagai salah seorang warga wilayah Timur 2, mengajukan permintaan tersebut kepada majelis, dan pucuk dicinta ulam tiba, majelis melalui bidang penatalayanan memberikan izin dan tempat di salah satu pojokan area sudimoro untuk menjadi tempat pengumpulan barang bekas. 
Setelah berjalan beberapa tahun tempat tersebut sudah tidak memadai untuk menampung barang yang terkumpul. Malah menimbulkan kesan kumuh dan tidak sedap dipandang mata karena semakin menggunung dan berceceran barang barang yang dikumpulkan.
Melihat hal tersebut majelis melalui bidang penatalayanan berinisiatif memindahkan kotak pengumpulan barang-barang bekas tersebut ke belakang area Sudirman 52. Dengan bangunan semi permanen berukuran lebih luas dan berdinding lebih tinggi diharapkan segi estetika dan efektivitas penyimpanan barang bekas dapat lebih baik dari sebelumnya.

Dalam diskusi tersebut, lebih lanjut Pak Sarwata menjelaskan tentang manajemen pengelolaan barang-barang bekas. 
Langkah pengelolaannya dimulai dari tahap pengumpulan, di mana terdapat dua tipe pendekatan, yakni jemaat mengantar langsung atau tim menjemput barang bekas tersebut ke lokasi. Setelah terkumpul, tim melakukan pemilahan berdasarkan kategori material seperti kertas, plastik, besi, dan sebagainya. Dalam kesempatan yang sama juga dijelaskan teknis pengumpulan Minyak Jelantah (Mijel) beserta pengelolaannya.
Melengkapi penjelasan tersebut, ditegaskan bahwa gerakan Barbek tidak hanya berdimensi ekonomi, tetapi juga dilandasi kepedulian terhadap keprihatinan lingkungan, sebagai wujud tanggung jawab iman dalam merawat ciptaan Tuhan.

Bukannya tanpa halangan dan rintangan dalam program tersebut. Pak Sarwata juga menceritakan suka dukanya di dalam menjalankan operasional pengumpulan barang bekas. Salah satu contoh ketika jemaat yang mengumpulkan barang-barang bekas yang di dalamnya ada barang-barang yang tidak laku dijual seperti pakaian bekas, sisa-sisa bumbu, makanan kering sudah kadaluarsa. Jadi kesannya malah seperti TPA sampah. Juga berkisah sering menghadapi bermacam-macam karakter jemaat yang unik-unik. Dibutuhkan kesabaran dan hati yang lapang untuk bisa menerima semua itu.
Dari segi keterlibatan jemaat pun masih dirasa kurang. Itu terbukti ketika dilakukan survei oleh bapak Gantyo Koespradono, tentang keterlibatan dan kepedulian jemaat di dalam mengumpulkan barang-barang bekas yang dibawa ke gereja itu hanya 20% dari seluruh jemaat GKJ Tangerang.

Dalam manajemen pengelolaan tenaga kerja di lapangan, pak Sarwata menjelaskan bahwa tim barbek tidak ada karyawan bayaran semua murni pelayanan. Ada 8 orang yang aktif di tim barbek.
1. Pak Sarwata 
2. Pak Edi Haryanto 
3. Pak Lukas Budi Santoso 
4. Pak Praptono 
5. Pak Yusak
6. Mas Eko
7. Mas Sani 
8. Pak Abed

Sebelum memasuki sesi kedua, acara break sebentar untuk makan siang bersama. Dengan menu makanan yang sederhana tapi menggugah selera. Paket makanan dipesan ke jemaat yang mempunyai salah satu usaha warung makan yang bernama Dapur Nusantara.

Pada sesi kedua, percakapan dilanjutkan dengan sharing PEJ yang disampaikan oleh Bapak Abednego Agung Prasetiawan selaku Ketua Komisi PEJ. Ia memaparkan berbagai program yang telah dijalankan, seperti seminar, pelatihan, dan workshop. Selain itu, disampaikan pula kendala-kendala yang dihadapi dalam upaya pengembangan ekonomi jemaat serta strategi yang terus diupayakan untuk memperkuat pelayanan.

Seluruh rangkaian sharing pelayanan ini berlangsung dalam suasana penuh kehangatan dan diskusi yang saling membangun. Pertemuan kemudian ditutup dengan kegiatan meninjau langsung lokasi tempat pengumpulan barang bekas dan minyak jelantah di Sudirman 52.

Melalui kunjungan ini, diharapkan terjalin sinergi pelayanan yang semakin kuat antarjemaat, sehingga semangat pemberdayaan ekonomi dan kepedulian terhadap lingkungan dapat terus berkembang dan menjadi berkat bagi gereja serta masyarakat luas. (yk)

Bagikan Ke:

Populer